Jumat, 09 Mei 2014

Impian dan langit-langit kamarku

Cerita Pendek

Impian dan langit-langit kamar ku
            Kunikmati alunan musik dengan setengah hati. Huam.. aku menguap entah untuk beberapa kali . Posisi sangat siap untuk menjemput mimpi. Ku pejamkan mata dengan paksa agar cepat terlelap. Namun,aku merasa semakin terjaga.Perlahan, ku buka lagi mataku dengan rasa takut. Takut berhadapan dengan langit-langit kamarku. Kali ini aku tidak mau mengetahui suasana hatiku yang sedang tidak menentu . tapi tampaknya sahabatku itu memaksaku untuk berbagai rasa dengannya.
            Perhatianku tertuju pada langit-langit kamar. Kuamati bercak-bercak cokelat menggantung di atas seakan-akan siap menjauhi diriku. Tampak kusam kini,tidak lagi seputih dulu. Pikiranku terbang meleset ke waktu empat belas tahun lalu ketika pertama kali aku memasuki kamar pertamaku ini, Dindingnya putih,langit-langitnya pun begitu putih,suci.
Entah kenapa , langit-langit kamar itu selalu menarik perhatianku waktu kecil, Aku suka sekali menatapinya dengan pandangan hampa . Kelamaan, aku merasa langit-langit kamar itu tersenyum. Itu bukan mimpi, itu nyata ! Awalnya aku takut melihat senyuman itu. Kulihat senyumannya begitu tulus . aku pun membalas senyum itu. Aku ingat sekali saat itu ketika kali pertama suatu masalah mengganggu hati dan pikiranku. Waktu itu aku menangis sejadi-jadinya.tak ada teman untuk berbagi. Lalu ku dengar langit-langit kamarku membisikan sesuatu di telingaku,begitu lembut dan menyejukkan.Kami pun berbicara panjang . Sejak saat itu pula,kulihat bercak cokelat pertama di langit-langit kamar itu, setelah itu, setiap masalah mendera hati dan pikiranku,bercak cokelat itu pun bertambah,terus dan terus hingga sebesar ini .
            Pikiranku masih terbuai oleh masa lalu ketika telingaku menangkap suara langkah-langkah berat itu.Ayah!Aku langsung berlari ke jendala kamar . Kulihat ayah berjalan mendekat. Kepalanya tertunduk,seperti terbebani dengan sejuta ton baja. Begitu tak berdaya. Kubuka jendela. Ayah berdiri tepat di hadapanku. Ayah tersenyum, begitu hambar. Ku balas senyum hambar.
            “Nita ingin kuliah yah”sambil menatap wajah Ayah
            “Ayah,juga ingin  melihat kamu jadi sarjana nak”jawab Ayah
            “Tapi yah, uang kuliah dari mana sedangkan ayah sudah tidak lagi bekerja?” Tanya ku kepada ayah
            “kamu percaya tuhan itu Maha Besar?” pertanyaan ayah kepadaku
            “aku percaya yah”sahutku pelan.
            “Kesulitan ekonomi bukan menjadi hal yang paling utama nak, Untuk kamu tidak kuliah.”
            “Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Janji allah untuk semua umatnya”
            “baiklah yah,, “jawabku kepada ayah

Kemudian ibu pun masuk ke kamar sambil memerikan masukan kepadaku
            “Nak, apakah benar kamu mau kuliah?” Ibu menatapku
            “iya ibu, aku ingin menjadi sarjana seperti ayah bilang, di balik kesulitan pasti ada kemudahn, asalkan kita mau berusaha apapun kesulitannya allah pasti mudahkan. Bukankah begitu bu ?”
            “kalau kamu kuliah nanti apakah kamu mau nerima resikonya nak ?”tanya ibu
            “resikonya jika ayah tidak sanggup membiayai kamu kuliah dan kamu akan keluar dari kampus?”
            “Bu, kalau ayah sudah tidak sanggup membiayai kuliah saya akan kerja sambil kuliah untuk melanjutkan ke semester berikutnya, sampai saya wisuda” jawabku dengan tegas
            “baiklah apapun keputusanmu, ibu do’akan kamu bisa mewujudkan impianmu ya nak”
            “amin, do’akan ibu karena aku percaya allah maha besar dan apapu kesulitannya allah pasti bantu”
Membayangkan betapa bangganya kedua orangtuaku nanti sungguh membuatku tak sabar ingin mewujudkan mimpi itu. aku mendesah pelan, memejamkan kedua mataku, membisikan harapan agar impianku terwujud kepada tuhan. Kubuka mataku kembali lalu menatap ke arah langit biru yang tersenyum cerah seakan-akan menyemangatiku dan berharap ada jalan yang dapat merubah hidup keluarganya agar jauh lebih baik.


            

1 komentar: